TAK banyak yang menyadari bahwa gema Hari Veteran Nasional yang kita peringati setiap 10 Agustus sesungguhnya bermula dari suara senyap rakyat bersenjata di Solo, 76 tahun silam. Dalam catatan sejarah, tanggal itu mengingatkan kita pada kemenangan moral dan militer pejuang Indonesia dalam Perang Empat Hari di Solo, sebuah titik balik yang tidak hanya mengguncang strategi kolonial Belanda, tetapi juga meneguhkan semangat republik muda mempertahankan kedaulatan.
Perang Empat Hari di Solo: Api Semangat yang Memukul Mundur Belanda
Pada awal Agustus 1949, situasi militer di Jawa Tengah memanas. Kota Solo menjadi medan pertempuran hebat antara Tentara Nasional Indonesia (TNI), tentara pelajar, dan berbagai laskar rakyat melawan pasukan Belanda yang saat itu masih bercokol dengan kekuatan persenjataan yang jauh lebih unggul. Namun keunggulan teknis Belanda tak mampu membendung kekuatan moril dan semangat pantang menyerah para pejuang Indonesia.
Dipimpin oleh Letkol Ignatius Slamet Riyadi, pasukan TNI berhasil menggugah kesadaran kolektif rakyat Solo dan sekitarnya untuk melawan. Laskar-laskar rakyat menyebar di berbagai sudut kota, membentuk barikade dan menghalangi jalur pasokan dari Semarang. Pasukan bantuan Belanda dari arah Semarang gagal menembus Kota Solo karena kepungan dan siasat gerilya para pejuang yang bergerak cepat dan tepat. Dalam waktu empat hari, Belanda dipukul mundur dan akhirnya menyerahkan kekuasaan militer di Kota Solo kepada Letkol Slamet Riyadi, menandai kemenangan rakyat atas penjajah dalam skala kota.
Kemenangan ini bukan hanya hasil taktik militer, tetapi juga buah dari kebulatan tekad nasional untuk tidak tunduk kembali kepada kolonialisme, tidak peduli seberapa timpang persenjataan yang dimiliki.
Presiden Sukarno dan Lahirnya Penyebutan “Veteran”
Peristiwa heroik di Solo menjadi salah satu referensi moral ketika Presiden Sukarno mulai memperkenalkan istilah “veteran” kepada para pejuang yang mempertahankan kemerdekaan. Dalam masa gencatan senjata pasca-agresi militer, seiring dengan berjalannya Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag pada akhir 1949, istilah “veteran” mendapat tempat dalam narasi negara. Penyematan gelar itu merupakan penghargaan agung negara kepada mereka yang rela berkorban demi kemerdekaan.
Dalam kerangka politik internasional, Konferensi Meja Bundar yang berlangsung dari Agustus hingga November 1949 menghasilkan pengakuan kedaulatan Indonesia secara de jure. Namun, di dalam negeri, pengakuan de facto atas jasa para pejuang ditandai dengan penyebutan mereka sebagai “veteran”—pejuang yang telah berjuang, menang, dan pulang dengan membawa kehormatan.
Pengakuan Hukum: UU No. 15 Tahun 2012 dan Keppres SBY
Pemerintah Republik Indonesia kemudian mengukuhkan keberadaan veteran secara yuridis melalui Undang-Undang No. 15 Tahun 2012 tentang Veteran Republik Indonesia. Undang-undang ini tidak hanya mengatur hak dan tanggung jawab veteran, tetapi juga menjadi payung hukum bagi pengakuan lintas generasi, termasuk veteran pejuang kemerdekaan, veteran Trikora, Dwikora, Seroja, dan pasukan perdamaian.
Selanjutnya, melalui Keputusan Presiden (Keppres) No. 30 Tahun 2014, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono resmi menetapkan tanggal 10 Agustus sebagai Hari Veteran Nasional. Tanggal ini dipilih bukan sekadar seremonial, tetapi sebagai penanda titik balik pengakuan moral dan historis atas jasa para pejuang.
Jejak Pejuang dalam Langkah Bangsa
Untuk memperingati Hari Veteran Nasional ke-76 pada 10 Agustus 2025, berbagai elemen bangsa akan bergabung dalam Kirab Hari Veteran Nasional yang diselenggarakan di kawasan Car Free Day Sudirman –Thamrin, Jakarta.
Kirab ini akan melibatkan:
Veteran Pejuang Kemerdekaan RI (PKRI)
Veteran Trikora, Dwikora, dan Seroja
Veteran Perdamaian
Resimen Mahasiswa
Pramuka, komunitas pencak silat, serta komunitas sepeda onthel berkostum pejuang
Sekjen DPP LVRI Laksdya TNI (Purn) Djoko Sumaryono dalam penjelasannya menyatakan, Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, dijadwalkan akan mengibaskan bendera start di sekitar Patung Kuda, sebagai simbol dimulainya barisan kehormatan yang tidak pernah mundur dari sejarah. Selain itu, gubernur juga akan menyerahkan 10 unit kursi roda kepada veteran PKRI yang membutuhkan, sebagai bentuk penghormatan dan empati kepada mereka yang telah mengorbankan segalanya demi Indonesia merdeka. Kirab yang akan diikuti 1.000 peserta itu akan berakhir di Bundaran HI.
Dari Solo untuk Selamanya
Sejarah Hari Veteran Nasional bukanlah catatan usang yang hanya dibuka setiap tanggal 10 Agustus. Ia adalah cermin bangsa yang menolak lupa, bahwa kemerdekaan bukan pemberian, tapi perjuangan. Bahwa veteran bukan masa lalu, melainkan penjaga harga diri bangsa yang selalu relevan dalam setiap zaman.
Dan dari Solo—dari jejak langkah Letkol Slamet Riyadi hingga derap langkah para veteran hari ini—kita diingatkan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati pejuangnya, dalam hidup maupun setelahnya.***
Penulis: Sudadi – Staf Khusus DPP LVRI















