PEKANBARU, TNN – Dinas Kesehatan (Diskes) Provinsi Riau turun tangan menindaklanjuti kasus ratusan siswa SMA Plus Provinsi Riau yang mengalami sakit secara massal dalam beberapa pekan terakhir.
Berdasarkan hasil penyelidikan epidemiologi, kasus tersebut berawal setelah kegiatan Lomba Ketangkasan Baris Berbaris (LKBB) yang digelar di lingkungan sekolah pada 3–5 Oktober 2025.
Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Riau, Widodo, mengatakan selama kegiatan berlangsung terdapat banyak penjual makanan kekinian di area sekolah yang dibeli para siswa tanpa memperhatikan aspek kebersihan dan keamanan pangan. Sekitar satu minggu kemudian, sejumlah siswa mulai mengalami gejala diare.
“Kasus pertama muncul pada 6 Oktober dengan satu siswa sakit, kemudian meningkat hingga mencapai puncak pada 13 dan 15 Oktober masing-masing sebanyak 11 kasus,” kata Widodo, Sabtu (1/11/2025) ketika dikonfirmasi RRI.
Namun, menurutnya, kejadian tersebut tidak dilaporkan ke Puskesmas Tambang, sehingga penyelidikan epidemiologi untuk memastikan penyebab diare tidak dapat dilakukan. Pihak sekolah pun memilih memulangkan siswa yang sakit ke rumah masing-masing untuk mencegah penularan lebih lanjut.
Berdasarkan hasil pengamatan tim Dinas Kesehatan, kasus diare kini sudah menurun signifikan dan tidak memenuhi kriteria Kejadian Luar Biasa (KLB). Meski demikian, muncul peningkatan kasus demam, batuk, dan flu di kalangan siswa, yang kini diduga merupakan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
“Kondisi lingkungan juga berkontribusi. Asrama siswa sedang direnovasi, sehingga mereka sementara tinggal di gedung terbuka menyerupai barak. Kondisi itu meningkatkan risiko penularan penyakit saluran pernapasan,” ujar Widodo.
Dari total 587 siswa, tercatat 253 siswa atau sekitar 43 persen mengalami gejala sakit hingga 30 Oktober 2025, dengan keluhan paling banyak berupa demam tinggi, batuk, pilek, diare, dan sakit kepala.
Widodo menambahkan adapun langkah cepat dan penanganan yang telah dilakukan yakni, distribusi masker bagi siswa yang mengalami batuk dan flu. Edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) kepada guru, pembina asrama, dan siswa.
Pemeriksaan kondisi asrama, yang menunjukkan kepadatan tinggi dan ventilasi kurang optimal serta disinfeksi lingkungan sekolah dan asrama, serta peningkatan penerapan PHBS.
Selain itu, pihak sekolah sementara meliburkan kegiatan belajar sejak 28 Oktober hingga 3 November 2025 untuk mencegah penularan lebih lanjut.
Lebih lanjut Widodo menuturkan setelah siswa dipulangkan ke rumah masing-masing, ada satu siswa juga dilaporkan positif Demam Berdarah Dengue (DBD). Menindaklanjuti hal itu, fogging atau pengasapan telah dilakukan oleh pihak terkait di lingkungan sekolah.
“Tim kami terus melakukan pemantauan harian dan berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Kampar serta Puskesmas Tambang. Kondisi saat ini mulai membaik dan diharapkan kegiatan belajar dapat kembali normal pada awal November,” ujar Widodo. (red/rri)















