DUMAI, TNN – Pemerintah Kota (Pemko) Dumai melalui Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Dumai menyelenggarakan sosialisasi intensif mengenai Manajemen Pengelolaan Risiko, Selasa (7/10/2025).
Acara yang berlangsung di Ruang Rapat Lantai II Bappeda Kota Dumai ini dihadiri oleh jajaran pegawai Bappeda serta perwakilan Perangkat Daerah (PD) terkait di lingkungan Pemko Dumai.
Kegiatan ini bertujuan untuk membekali aparatur pemerintah dengan pengetahuan dan keterampilan dalam mengidentifikasi, menganalisis, mengevaluasi, dan merespons risiko yang mungkin menghambat pencapaian target pembangunan.
Dalam sambutan pembukaannya, Kepala Bappeda Kota Dumai, Drs. H. Budhi Hasnul, M.Si ini menekankan pentingnya manajemen risiko dalam perencanaan pembangunan.
“Setiap kegiatan dan program pembangunan memiliki risiko yang harus diantisipasi. Dengan pemahaman yang kuat tentang manajemen risiko, kita dapat mengidentifikasi risiko, memprioritaskan bagaimana risiko harus dikelola dan menerapkan langkah penanganan risiko, agar pencapaian tujuan dan sasaran pembangunan daerah dapat tercapai tanpa menemui hambatan” ujarnya.
Dalam kegiatan yang dilakukan secara intensif tersebut, Desi Fatimah, Ak., Auditor Ahli Madya dari Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Perwakilan Provinsi Riau, hadir sebagai narasumber utama.
Ia memberikan paparan mendalam mengenai berbagai aspek krusial dalam manajemen risiko, mencakup serangkaian tahapan dan strategi yang harus diterapkan oleh Pemerintah Daerah (Pemda) untuk mengidentifikasi, menganalisis, mengevaluasi, dan merespons risiko secara sistematis.
Beberapa poin penting yang disampaikan dalam paparan Desi Fatimah diawali dengan identifikasi tantangan umum yang dihadapi Pemda, seperti kompleksitas pengelolaan keuangan, keterbatasan sumber daya manusia (SDM), serta berbagai faktor eksternal, seperti perubahan kebijakan nasional atau kondisi ekonomi global yang dapat memengaruhi kinerja dan capaian pembangunan.
Selanjutnya, penetapan konteks. Menurut Desi, menentukan konteks internal dan eksternal merupakan langkah fundamental dalam memahami lingkungan operasional Pemda. Dengan memahami konteks tersebut, setiap kebijakan dan keputusan dapat disesuaikan secara tepat dengan realitas di lapangan.
Berbagai metode seperti diskusi terfokus, wawancara, dan analisis dokumen digunakan untuk mengidentifikasi potensi risiko yang dapat menghambat pencapaian tujuan organisasi. Langkah ini memastikan tidak ada risiko signifikan yang terlewat dalam proses perencanaan.
“Setelah teridentifikasi, setiap risiko dinilai berdasarkan tingkat kemungkinan terjadinya dan dampak yang ditimbulkan. Hasil analisis ini menjadi dasar bagi Pemda dalam menentukan prioritas penanganan, sehingga alokasi sumber daya, baik anggaran maupun SDM dapat dilakukan secara efisien dan efektif,” tuturnya.
Desi juga menjelaskan empat strategi utama dalam merespons risiko, yaitu menghindari, mengurangi, memindahkan, dan menerima risiko. Pemilihan strategi disesuaikan dengan karakteristik masing-masing risiko serta kapasitas organisasi dalam mengelolanya.
Kegiatan sosialisasi berlangsung interaktif, dengan peserta aktif mengajukan pertanyaan dan berdiskusi mengenai penerapan manajemen risiko dalam konteks tugas masing-masing PD. (hms/red)















