PEKANBARU, TNN – Aksi pemerasan dengan modus menggunakan wanita yang memancing korbannya dengan chat mesra masih terus terjadi di era teknologi informasi sekarang ini. Biasanya pelaku kejahatan menggunakan sarana internet, khususnya dunia maya atau media sosial (medsos). Sedangkan medsos yang sering dipakai oleh para kriminal adalah Facebook (FB) dan WhatsApps (WA).
Hal ini terungkap dalam penelusuran redaksi Totalnews terhadap kejahatan dunia maya yang kian massif. Penelusuran terhadap jariang mafia pemerasan ini bermula saat penasehat redaksi Totalnews, Agus Salim, menerima pesan WA dari seorang wanita bulan Juli lalu.
Awalnya sang wanita mengajak berkenalan dan menawarkan voucher hotel kepada pria yang merupakan ASN di Pekanbaru tersebut. Sang wanita kemudian sering mengajak ngobrol dengan akrab. Lama-kelamaan sang wanita mulai memancing-mancing obrolan mesra.
Agus kemudian melaporkan hal ini ke redaksi Totalnews karena merasa gelagat yang tidak benar. Tim redaksi Totalnews kemudian sepakat untuk menjadikan hal ini sebagai bahan liputan dan meminta Agus untuk tetap menjalin komunikasi dengan sang wanita. Bahkan dalam beberapa kesempatan, redaksi Totalnews sempat menggantikan Agus untuk berkomunikasi.
Dugaan bahwa sang wanita merupakan bagian dalam jaringan pemerasan akhirnya semakin terungkap saat ia mulai sering meminta uang kepada penasehat redaksi Totalnews tersebut. Akhirnya tim redaksi memutuskan untuk tidak melayani lagi chat wanita tersebut.
Seperti umumnya kasus penipuan dan pemerasan serupa, yang melakukan pengancaman bukan lagi sang wanita yang memang biasanya dijadikan umpan. Pada hari Jumat (12/9/2025), Agus menerima pesan dari seseorang yang mengaku dari media. Sang pengirim pesan menyebutkan memiliki data tentang aktivitas mesum penasehat redaksi Totalnews tersebut dan mengancam akan menyebarkan berita negatif tentang Agus.
Pengirim pesan yang mengaku dari mediaviral tersebut juga menawarkan ‘solusi’ kepada Agus jika mau bekerja sama. Hal ini tentu saja semakin membuktikan bahwa ada kerja sama antara sang wanita dengan pihak yang mengaku media tersebut.
Agus mengingatkan kepada para pegiat media sosial untuk selalu berhati-hati dengan upaya pemerasan dengan menggunakan wanita cantik sebagai umpannya.
Berikut cara pelaku kejahatan melakukan aksi kejahatan seperti ini, yaitu:
1. Pelaku akan memakai foto profil FB wanita muda cantik dan mulai menyapa calon korban (pria setengah baya) lewat pesan pribadi atau messenger.
2. Jika pesan itu telah dibalas, maka pelaku akan mengajak chat atau ngobrol dengan calon korban lewat WhatsApp yang lebih leluasa dan mudah.
3. Setelah keduanya mulai ngobrol via WA, pelaku memancing dengan kalimat-kalimat mesra, seperti, ‘adek mandi dulu ya, mas’ atau ‘adek mau tidur, tapi kamarnya dingin nih’, dan masih banyak lagi.
3. Tujuan kalimat mesra tersebut adalah agar calon korban menanggapi kalimat itu dengan mengatakan, ‘boleh saya ikut mandi?’ atau ‘boleh abang menemani tidur adek?’ atau sejenisnya.
4. Beberapa saat kemudian (pelaku seolah-olah habis mandi) maka dia akan mulai chat lagi, ‘adek mau ganti pakaian’. Tujuannya masih sama, agar calon korban terpancing agar pelaku merekam atau memfoto adegan ganti bajunya (untuk kemudian diminta oleh calon korban).
5. Ketika dirasa bukti-bukti chat mesra sudah cukup, beberapa saat ada nomor lain yang akan menghubungi calon korban dengan mengirim pesan lewat WhatsApp dan kemudian menelepon. Dia mengaku sebagai suami wanita itu atau dari pihak media.
6. Pria yang mengaku suami itu atau pihak yang mengaku media meminta korban untuk mohon maaf atau diselesaikan secara damai (dengan bukti potongan layar chat mesra antara korban dan pelaku), yakni dengan minta uang atau melakukan pemerasan pada pria. Para korban biasanya tidak bisa berbuat banyak dan memilih memenuhi permintaan pelaku kejahatan tersebut.
Meski terhitung mudah dikenali, namun banyak kriminal yang memakai modus ini di medsos hingga sekarang. Maka pengguna medsos tetap perlu hati-hati dan waspada.***















