Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example 728x250
Berita

Kepahlawanan Syeikh Abdul Wahab Rokan

185
×

Kepahlawanan Syeikh Abdul Wahab Rokan

Sebarkan artikel ini

Oleh : Azmi bin Rozali

Di tengah arus ingatan kolektif bangsa terhadap para pejuang kemerdekaan, satu nama dari bumi Melayu Riau kian mengemuka: Syeikh Abdul Wahab Rokan. Ia bukan panglima perang, bukan perancang strategi militer, tetapi ulama mursyid tarekat Naqsyabandiyah yang membentengi rakyat dari kolonialisme dengan ilmu, spiritualitas, dan konsolidasi kultural.

Lahir di Rantau Binuang Sakti, Rokan Hulu, tahun 1811, dan wafat di Babussalam Langkat, tahun 1926, Syeikh Abdul Wahab Rokan adalah tokoh transformatif dalam sejarah keislaman dan kebudayaan Nusantara.

Kini, sejumlah elemen masyarakat di Riau—terutama Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR)—menginisiasi perjuangan untuk mengusulkan beliau sebagai Pahlawan Nasional. Ini bukan soal romantisme lokal, melainkan pembacaan ulang terhadap lanskap sejarah nasional yang terlalu sering abai terhadap peran ulama dan pusat-pusat kultural non-militer.

Ulama Pejuang, Guru Bangsa

Syeikh Abdul Wahab Rokan merupakan figur utama dalam penyebaran tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah di Sumatera dan Semenanjung Malaya. Setelah berguru ke Mekah dan memperoleh sanad keilmuan langsung dari Syeikh Khalid al-Naqsyabandi, ia mendirikan pusat spiritual Babussalam di Langkat, yang pada akhir abad ke-19 menjadi episentrum pendidikan Islam dan pengkaderan ulama. Jaringan surau dan muridnya tersebar dari Riau, Sumatera Utara, Aceh, hingga Patani (Thailand Selatan).

Perjuangan Syeikh Abdul Wahab bukan dalam bentuk senjata, tetapi melalui penguatan identitas, pemeliharaan akidah, dan pengorganisasian umat dalam menghadapi sistem kolonial. Dalam konteks itu, ia dapat dikategorikan sebagai pejuang kebudayaan dan pembentuk kesadaran kebangsaan yang tak kalah penting dari tokoh-tokoh revolusioner bersenjata.

“Beliau adalah benteng spiritual masyarakat Melayu pada masa kolonial, ketika senjata telah dirampas, pendidikan ditekan, dan keyakinan hampir runtuh,” kata Datuk Seri Taufik Ikram Jamil, budayawan Riau sekaligus salah satu pendukung utama pengusulan ini. “Kita bicara tentang figur yang membentuk jiwa bangsa jauh sebelum republik ini lahir.”

Rekognisi yang Terlambat

LAMR telah menyusun dokumen historis dan administratif untuk mendukung pengusulan ini, termasuk jejak pengaruh Syeikh Abdul Wahab di lebih dari 300 surau, manuskrip pengajaran, serta peranannya sebagai pemersatu komunitas Muslim di kawasan timur Sumatera.

“Ini bukan hanya soal identitas Riau, tetapi juga soal keadilan sejarah. Sudah saatnya kita mendobrak narasi Jakarta-sentris dalam penetapan pahlawan nasional,” tegas Datuk Seri Marjohan Yusuf, Ketua MKA LAMR. Ia menambahkan bahwa peran ulama dalam sejarah Indonesia tidak bisa hanya dibaca sebagai tokoh agama, melainkan juga sebagai pemimpin sosial dan penggerak pembebasan.

Pakar sejarah Islam Nusantara, Dr. Yusri Sy, dari Universitas Riau menyebut bahwa Syeikh Abdul Wahab Rokan mewakili figur “ulama intelektual” yang mendidik masyarakat dengan pemahaman Islam yang kuat, namun juga membuka ruang dialog antara agama, adat, dan negara. “Kalau kita punya KH Ahmad Dahlan di Jawa, maka Riau dan Sumatera Timur punya Syeikh Abdul Wahab sebagai rujukan utama,” katanya.

Urgensi Penetapan

Negara sejatinya telah memberi contoh baik dengan menetapkan tokoh-tokoh seperti Tuanku Imam Bonjol, KH Hasyim Asy’ari, dan KH Ahmad Dahlan sebagai pahlawan nasional. Tokoh-tokoh ini mewakili perjuangan dalam spektrum moral dan spiritual. Maka, mengapa Syeikh Abdul Wahab Rokan yang memiliki jejaring yang tak kalah luas dan pengaruh lintas batas negara belum diakui secara formal?

Pengakuan terhadap beliau tidak hanya penting bagi masyarakat Riau dan Sumatera, tapi juga bagi narasi besar kebangsaan yang inklusif terhadap ragam bentuk perjuangan.

Di era di mana keteladanan moral semakin dibutuhkan, figur seperti Syeikh Abdul Wahab adalah contoh hidup tentang bagaimana keberanian, ilmu, dan kebijaksanaan bisa menjadi jalan perlawanan.

Indonesia tidak hanya dibangun oleh para pejuang bersenjata, tetapi juga oleh para guru bangsa yang merawat akal sehat dan spiritualitas rakyat dalam masa-masa tergelap penjajahan.

Syeikh Abdul Wahab Rokan adalah satu di antaranya—tokoh yang layak disebut pahlawan, bukan hanya karena jasa masa lalu, tetapi karena relevansi nilai-nilainya untuk masa kini dan masa depan. ***

 

Penulis adalah coach dan trainer nasional, pernah tiga periode menjabat anggota DPRD kabupaten Bengkalis 2004-2019.

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *