PEKANBARU, TNN – Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI) bersama Pemerintah Provinsi Riau melepas bantuan kemanusiaan senilai Rp514.218.000 untuk membantu korban bencana alam di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Bantuan tersebut sebagai bentuk kepedulian dan solidaritas sivitas akademika serta masyarakat Riau terhadap daerah terdampak.
Rektor UMRI, Saidul Amin menyampaikan dari keseluruhan bantuan yang berhasil dikumpulkan berasal dari penyisihan gaji ke-14 Rektor, Dekan, dan staf lainnya hingga dari mahasiswa dan masyarakat Riau.
“Total bantuan yang kita terima 514.218.000. Masih lebih sedikit dari target kita, namun ke depan kita akan terus berusaha agar bantuan ini bisa mencapai Rp1 miliar,” ujar Saidul Amin di Rektorat UMRI, Sabtu (13/12).
Bantuan yang dikirimkan berupa pakaian layak pakai, perlengkapan salat, makanan bayi, sembako, air mineral, perlengkapan mandi, serta makanan siap saji. Berdasarkan pengalaman bencana tsunami Aceh tahun 2004, UMRI juga memberi perhatian khusus pada kebutuhan sanitasi perempuan.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Provinsi Riau, Syahrial Abdi, menyampaikan apresiasi kepada UMRI dan para relawan, khususnya mahasiswa. Merekalah yang telah terlibat aktif dalam aksi kemanusiaan tersebut, turun langsung ke lapangan.
“Terima kasih kepada adik-adik mahasiswa dan seluruh relawan. Semangat Muhammadiyah adalah gerakan yang tidak pernah berhenti dan selalu terdepan, dan hari ini dibuktikan,” ujarnya.
Menurutnya, UMRI telah menunjukkan sikap inklusif dengan merangkul siapa pun yang ingin berkontribusi. Menurutnya, apapun bentuk bantuannya, semua yang tergerak dan ingin bergerak mendapat dukungan penuh dari Pemprov Riau.
Syahrial Abdi juga menyampaikan bahwa Pemerintah Provinsi Riau telah menyalurkan bantuan keuangan khusus yang ditransfer langsung ke daerah terdampak. Dari tiga provinsi yang terdampak, bantuan kali ini akan difokuskan ke wilayah yang paling sulit dijangkau.
“Siapa pun yang bergerak membantu, Pemprov Riau siap support. Mari kita bersama-sama mendukung saudara kita yang sedang diuji dengan musibah Aceh, Sumut, dan Sumbar,” ujarnya.
Selain itu, Pemprov Riau saat ini telah menetapkan status siaga bencana. Ia mengungkapkan bahwa debit air di PLTA Koto Panjang mengalami kenaikan, meski masih dalam kondisi aman dan bergantung pada curah hujan.
“Kita tetap waspada. Dari musibah ini banyak pelajaran yang bisa diambil. Apapun yang terjadi, kita tetap bersiaga dan berserah diri kepada takdir Allah SWT,” pungkasnya.(rls)















